FavoriteLoadingBookmark

 

Note: You are not Registered for this course. This course if free for anyone to take.

Please Register Now to be eligible to receive a certificate upon completion. 

(Indonesian translation below)
We‘re now going to spend some time talking about design thinking. Design thinking is currently a very popular method for developing ideas for new products and services. Design thinking focuses on the customer and, crucially, it also focuses on meaning.
The first step in design thinking is to figure out what the customer‘s problem is. This can be done in one of two ways: You can go out and ask the customer or you can imagine what the customer wants. If your target customers are similar to yourself, you might get away with the second option, but for now let‘s assume that‘s not the case. Going out and interviewing several customers is usually the most effective way to find out what the customer‘s problem is. But this needs to be done right. You can‘t just go out and tell prospective customers about your idea and ask them „do you want this“? Most people like to make other people happy, so they will be inclined to say yes, even if they would never actually buy your product or service. What you need to do is get people to talk about their problem – to get them to describe it to you without asking leading questions or hinting at the answer you would like to hear. Be empathetic.
The second step in design thinking is to define the problem. You do this based on the insights you gained from talking with prospective customers. Your goal is to figure out – based on what customers have told you – what is the ACTUAL problem.
The third step is ideation. This means brainstorming ideas for how to solve the problem you‘ve just defined. Stay focused on just this one problem. But try to come up with lots of ideas. Now sketch up your best ideas and show them to prospective customers. Your sketches don‘t need to be perfect, just enough to explain what your idea is about.
The fourth step is to build a prototype of one idea. You will probably select an idea that seemed to be well received by the prospective customers you talked to. Good ideas often combine something that is already being used with a novel idea. And don‘t forget to ask yourself what meaning the product or service can create. Again, just like your sketches, the prototype does not need to be perfect. It needs to be just good enough to try out.
Remember, that the first version of a product is always flawed and since the product will evolve anyway, you should not sweat the details at this point. When we talk about prototypes we tend to think of objects – so products. But you can also create prototypes of services that encompass just enough to allow people to try out your service.
The fifth step of design thinking is testing – or validation. This is where you take your prototype product or service to prospective customers and ask them to try it out. Just like in the first step, where you went out and talked to customers, you want to stay objective and allow people to express their true reactions to your prototype. Don‘t be defensive if they are critical.
There are five steps to design thinking, but the first time you hit step five will probably not be the last. Based on the insights you gained in the testing step, you may need to go back to ideation or prototyping to try again.
This iterative aspect of design thinking resonates with the model that Eric Ries put forward in his book entitled „The Lean Startup“, which has since developed into the lean startup movement. He refers to continuous innovation. He argues that the whole point of entrepreneurship is testing and learning faster than your competitors. The core idea behind the lean startup movement is to avoid spending a bunch of money and time on something that may well fail when you try to sell it.
The lean startup method consists of three steps: build, measure and learn. The build step corresponds to the fourth step of design thinking, prototype. The measure step corresponds to the fifth step of design thinking, testing or validation. In the learn step you either go forward with your idea, which might involve building a better prototype, or you adjust your idea.
So, the key take-away from both the design thinking camp and the lean startup camp is don‘t expect to come up with an idea, develop it into a product or service and launch it to an appreciative market in just one go. You will most likely need to iterate.
 
Indonesian:
Unit 5 : Berpikir Desain dan Konsep Lean Start-Up
Sekarang kita akan menghabiskan waktu untuk berbicara tentang berpikir desain (design thinking). Desing thinking saat ini merupakan metode yang sangat populer untuk mengembangkan ide produk dan layanan baru. Design thinking berfokus pada pelanggan dan, yang terpenting, juga berfokus pada makna.
Langkah pertama dalam design thinking adalah mencari tahu apa masalah pelanggan. Ini dapat dilakukan dengan salah satu dari dua cara: Anda dapat pergi keluar dan bertanya kepada pelanggan atau Anda dapat membayangkan apa yang diinginkan pelanggan. Jika pelanggan target Anda mirip dengan diri Anda sendiri, Anda mungkin bisa lolos dengan opsi kedua, tetapi untuk sekarang mari berasumsi bahwa bukan itu masalahnya. Pergi keluar dan mewawancarai beberapa pelanggan biasanya merupakan cara paling efektif untuk mencari tahu apa masalah pelanggan. Tetapi ini perlu dilakukan dengan benar. Anda tidak bisa keluar dan memberi tahu calon pelanggan tentang ide Anda dan bertanya “apakah Anda menginginkan ini”? Kebanyakan orang suka membuat orang lain bahagia, jadi mereka cenderung mengatakan ya, meskipun mereka tidak akan pernah benar-benar membeli produk atau jasa Anda. Yang perlu Anda lakukan adalah membuat orang membicarakan masalah mereka – meminta mereka menjelaskannya kepada Anda tanpa menanyakan pertanyaan yang mengarah atau mengisyaratkan jawaban yang ingin Anda dengar. Ber-empatilah!
Langkah kedua dalam design thinking adalah mendefinisikan masalah. Anda melakukan ini berdasarkan wawasan yang Anda peroleh dari berbicara dengan calon pelanggan. Tujuan Anda adalah untuk mencari tahu – berdasarkan apa yang pelanggan katakan kepada Anda – apa masalah yang sebenarnya.
Langkah ketiga adalah ideasi. Ini berarti melakukan brainstorming ide untuk memecahkan masalah yang baru saja Anda definisikan. Tetap fokus pada satu masalah ini saja. Tetapi cobalah untuk menghasilkan banyak ide. Sekarang gambarkan ide-ide terbaik Anda dan tunjukkan kepada calon pelanggan. Sketsa Anda tidak perlu sempurna, cukup jelaskan apa ide Anda.
Langkah keempat adalah membangun prototipe dari satu ide. Anda mungkin akan memilih ide yang tampaknya diterima dengan baik oleh calon pelanggan yang Anda ajak bicara. Ide bagus sering didapat dari menggabungkan sesuatu yang sudah digunakan dengan ide baru. Dan jangan lupa tanyakan pada diri sendiri apa artinya produk atau layanan yang bisa dibuat. Sekali lagi, seperti sketsa Anda, prototipe tidak perlu sempurna, hanya perlu cukup baik untuk dicoba.
Ingat, bahwa versi pertama dari suatu produk selalu cacat dan karena produk itu akan berevolusi, Anda tidak perlu memusingkan perincian pada saat ini. Ketika kita berbicara tentang prototipe kita cenderung memikirkan objek – yaitu produk. Tetapi Anda juga dapat membuat prototipe layanan yang cukup untuk memungkinkan orang mencoba layanan Anda.
Langkah kelima dari design thinking adalah pengujian – atau validasi. Di sinilah Anda memberikan produk atau layanan prototipe Anda kepada calon pelanggan dan meminta mereka untuk mencobanya. Sama seperti pada langkah pertama saat Anda pergi keluar dan berbicara dengan pelanggan, Anda harus bersikap obyektif dan kooperatif agar memungkinkan orang untuk mengekspresikan reaksi nyata mereka terhadap prototipe Anda. Jangan bersikap defensif jika mereka kritis.
Ada lima langkah untuk merancang pemikiran, tetapi saat pertama kali Anda mencapai langkah ke lima, saat itu mungkin bukan menjadi yang terakhir kalinya. Berdasarkan wawasan yang Anda peroleh dalam langkah pengujian, Anda mungkin perlu kembali ke ide atau prototipe untuk mencoba lagi.
Aspek iteratif design thinking ini sesuai dengan model yang Eric Ries kemukakan dalam bukunya yang berjudul “The Lean Startup”, yang sejak itu berkembang menjadi gerakan lean stratup. Ia mengacu pada inovasi berkelanjutan. Dia berpendapat bahwa inti dari kewirausahaan adalah menguji dan mempelajari lebih cepat daripada pesaing Anda. Ide inti di balik gerakan lean startup adalah menghindari menghabiskan banyak uang dan waktu pada sesuatu yang mungkin gagal ketika Anda mencoba untuk menjualnya.
Metode lean startup terdiri dari tiga langkah: membangun, mengukur, dan mempelajari. Langkah membangun sesuai dengan langkah keempat dari design thinking yaitu prototipe. Langkah mengukur sesuai dengan langkah kelima dari design thinking yaitu pengujian atau validasi. Dalam langkah yang sudah dipelajari sebelumnya, Anda bisa meneruskan ide Anda, yang mungkin mengharuskan perbaikan prototipe, atau Anda bisa menyesuaikan ide Anda.
Jadi, kunci yang dapat diambil baik dari design thinking dan kamp lean startup adalah jangan berharap untuk mendapatkan ide, mengembangkannya menjadi produk atau layanan dan meluncurkannya ke pasar hanya dengan sekali jalan. Kemungkinan besar Anda harus melakukan iterasi.

Download Video Text